Malam itu Bandung masih terasa hidup. Lampu-lampu toko dan kafe menyala, memantul di jalanan yang sedikit basah sisa hujan senja. Aku baru saja melintasi lampu merah di salah satu simpang sibuk kota. Beberapa ratus meter setelahnya, kendaraan tetap bergerak, meski pelan. Jalanan padat, tapi tidak sampai macet. Suasana khas Bandung malam hari: ramai, tapi tidak membuat frustasi. Di atas motorku, aku menikmati angin malam yang menyusup lewat celah jaket, sambil menjaga jarak aman dari kendaraan di depan.
Lalu—seperti datang dari entah mana—*BRAAAAAATTTT!!!* Suara knalpot bising meledak di belakangku, nyaris menenggelamkan semua suara lain. Aku terkejut, jantung langsung melonjak. Refleks, aku menepi sedikit ke kiri, padahal tidak ada yang salah dengan posisiku. Suara itu seperti hentakan keras di bahu, seolah memerintah: "Minggir!" Dan anehnya, tubuhku patuh—bukan karena aturan lalu lintas, tapi karena tekanan yang datang melalui getaran suara.
Ada rasa kesal yang langsung muncul. Bukan cuma karena bisingnya, tapi karena cara suara itu mengusirku dari ruangku sendiri di jalan. Knalpot itu seperti alat intimidasi, bukan alat transportasi. Aku merasa kecil, seolah sedang menghalangi jalur seseorang yang jauh lebih penting, padahal aku hanya melaju sesuai alur, sama seperti yang lain. Tapi suara seperti itu membuat siapapun ingin menyingkir.
Beberapa saat kemudian motor itu melaju melewatiku. Aku sempat melihat sekilas pengendaranya—tanpa helm, jaket terbuka, tatapan lurus ke depan. Tidak ada gestur terima kasih, tidak ada pandangan minta maaf. Mungkin dia tidak merasa perlu. Mungkin dalam pikirannya, dia sedang mengekspresikan kebebasan. Tapi bagiku, itu bukan ekspresi—itu dominasi.
Aku mencoba menenangkan diri, menata ulang suasana hati. Tapi jejak suara itu masih tertinggal di telinga dan di dada. Di jalanan yang sempit dan padat ini, ternyata suara bisa jadi alat kuasa. Bukan soal cepat atau lambat, bukan soal siapa lebih dulu. Tapi siapa yang paling keras—dan siapa yang mau diam, hanya karena terpaksa.
